Budaya Tuli: Butuh Tempat Terang untuk Berkomunikasi

Salah satu budaya Tuli yang perlu sama-sama kita ketahui adalah mengenai kebutuhan cahaya untuk dapat berkomunikasi. Kebutuhan cahaya ini dikarenakan oleh cara orang Tuli untuk berkomunikasi yang mengandalkan visual untuk melihat gerakan isyarat. Tanpa adanya cahaya yang mencukupi, orang Tuli akan kesulitan untuk berkomunikasi dan dapat menyebabkan miskomunikasi saat berisyarat.
    Bagi orang Dengar, ketersediaan cahaya tidak menghalangi proses komunikasi yang dilakukan dengan oral. Dalam kondisi ruangan yang gelap pun, orang Dengar dapat berkomunikasi karena mereka mengandalkan organ pendengaran untuk mendengar, dan merespons dengan mulut. Bahkan sebagian besar dari kita banyak yang mengobrol saat akan tidur dan lampu kamar sudah dimatikan, kan?
    Kebutuhan cahaya untuk dapat berkomunikasi dengan orang Tuli juga disesuaikan dengan jumlah orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut. Jika hanya melibatkan dua hingga tiga orang, di dalam mobil yang sedang berjalan pun, orang Tuli dapat berkomunikasi dengan sesamanya dengan lampu mobil yang dihidupkan. Namun jika melibatkan hingga lebih dari sepuluh orang, kebutuhan cahaya harus memenuhi ruangan. Oleh karena itu jarang ada kelompok Tuli yang berkumpul di café outdoor karena cahaya yang biasanya tidak tersedia, atau redup. 
    Dengan ketersediaan cahaya yang memadai, komunikasi antar Tuli ataupun orang Dengar yang bisa berbahasa isyarat dapat dilakukan bahkan dari jarak yang jauh sekalipun. Posisi duduk tidak harus berdekatan, karena dengan isyarat, komunikasi dapat dilakukan bahkan saat kedua pihak yang berkomunikasi duduk di masing-masing ujung ruangan. 
    Itulah penjelasan mengenai budaya Tuli yang membutuhkan cahaya ini. Di artikel berikutnya, kita akan membahas beberapa budaya Tuli yang lain untuk dapat kita pahami bersama-sama. Terima kasih, Salam Setara! (*)