Budaya Tuli: Lambai Tangan

Pada setiap akhir pertunjukan konser, para penonton biasanya akan bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi pada bintang pujaannya. Bertepuk tangan telah menjadi kebiasaan yang dilakukan di seluruh dunia, terlepas dari usia, jenis kelamin hingga ras.

Tindakan bertepuk tangan dipandang sebagai salah satu cara untuk menyatakan penghargaan atas persembahan yang dinikmati atau sesuatu yang membawa elemen positif kepada seseorang. Bertepuk tangan juga dianggap sebagai tindakan menunjukkan cinta dan kebanggaan pada orang lain. Karena itu, tidak mengherankan jika tempat-tempat seperti aula atau stadion selalu bergemuruh dengan tepuk tangan penonton karena mereka menikmati pertunjukan yang menyenangkan.

Bunyi yang dihasilkan dari tepuk tangan menjadi ungkapan emosi setiap kali orang melihat sesuatu yang menyenangkan. Namun bunyi tepuk tangan tidak akan terdengar oleh orang Tuli, sehingga ada sebuah budaya Tuli yang dimiliki orang Tuli dalam memberikan apresiasinya.

Budaya Tuli yang dimaksudkan itu adalah lambaian tangan. Orang Tuli melambaikan kedua tangannya sebagai bentuk penghargaan kepada penampilan atau pertunjukan yang dilihatnya. Gerakan lambaian tangan adalah dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan menggerakkannya dalam bentuk lambaian yang diulang
berkali-kali.

Sebagai orang yang lebih mengutamakan visual, lambaian tangan menjadi pengganti dari tepuk tangan yang dilakukan oleh orang Dengar. Orang Dengar mendengar suara riuh dari tepuk tangan, orang Tuli melihat gerakan yang ramai dari lambaian tangan.

Nah, apakah kamu pernah memberikan lambaian tangan pada seorang Tuli? Atau, pernahkah Tuli memberikan lambaian tangan kepadamu?