Hari Gizi Nasional ke 60: Indonesia Darurat Stunting

Tanggal 28 Februari 2020 masyarakat Indonesia merayakan Hari Gizi Nasional. Kegiatan ini turut diramaikan oleh Menteri Kesehatan dengan kampanye bertema “Gizi Optimal untuk Generasi Milenial”. Mengingat Indonesia masih krisis masalah pengetahuan tentang gizi buruk, pemerintah merasa perlu untuk mengedukasi masyarakat terutama para orang tua dan yang akan menjadi calon orang tua di masa yang akan datang.

Mengenal Stunting

Gizi Buruk, atau biasa dikenal dengan istilah stunting dapat diartikan sebagai masalah kekurangan gizi yang terjadi pada bayi dan balita usia 2 tahun yang diakibatkan karena asupan gizi yang tidak memenuhi standar. Hal itu bisa berakibat fatal mulai dari tumbuh kembang anak yang kurang optimal, penyakit malnutrisi, hingga kematian.

Sebenarnya, stunting bukan cuma bisa disebabkan oleh kekurangan nutrisi pada bayi, tapi juga bisa disebabkan karena perkembangan janin yang abnormal, infeksi di awal kelahiran, maupun adanya perubahan hormon Ibu yang diakibatkan oleh stres saat kehamilan. Maka dari itu pengetahuan akan stunting sangat penting untuk disosialisasikan.

Mengetahui Tanda-tanda Penderita Stunting, Apa Saja?

Gejala stunting biasanya ditandai dengan pertumbuhan anak yang lebih kerdil dan lebih kurus bila dibandingkan dengan anak-anak dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Kemudian seiring perkembangannya, anak jadi lebih mudah sakit karena sistem daya tahan tubuh yang lemah, juga mengalami perkembangan kecerdasan yang lambat. 

Ketika bertambah dewasa, risiko menderita penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker pada riwayat penderita stunting lebih tinggi dibandingkan anak dengan gizi yang tercukupi.

Indonesia Darurat Stunting

Faktanya, kasus stunting di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Tercatat data dari 2013 hingga 2017, total sekitar 9 juta anak di Indonesia menderita stunting atau bisa dikatakan sebanyak 1 dari 3 bayi di Indonesia mengalami stunting. Tentunya angka ini sangat banyak hingga membuat negara Indonesia bergabung dengan lima negara lainnya membuat daftar 5 negara di dunia dengan kasus stunting terbanyak pertahunnya.

Stunting juga turut andil dalam menyumbang kerugian negara hingga Rp300 triliun karena hilangnya potensi pendapatan. Karena bayi-bayi stunting itu pada akhirnya akan meneruskan dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia generasi mendatang.

Pencegahan Stunting

Melalui penanganan yang tepat, stunting bisa dicegah. Salah satu caranya adalah dengan menjaga gizi anak semenjak dalam kandungan, terutama waktu-waktu krusial di 1000 hari pertama atau 8 bulan. Kemudian juga dengan mencukupi gizi anak melalui pemberian ASI eksklusif selama 2 tahun, serta MPASI (makanan pendamping ASI) setelah 6 bulan pertama usianya.

Tidak hanya itu, langkah pencegahan juga bisa dilakukan dengan pemberian edukasi kepada perempuan dan calon-calon ibu mengenai bekal persiapan kehamilan agar perkembangan bayinya sehat dan tidak mengalami kekurangan gizi.                       

Tema Hari Gizi Nasional: Gizi Optimal untuk Generasi Milenial

Mengingat kasus Stunting di Indonesia yang tidak selesai-selesai, pemerintah merasa perlu untuk menyosialisasikan pengetahuan akan stunting. Mengusung tema: Gizi Optimal untuk Generasi Milenial, pemerintah akan terus menggalakkan kampanye tentang pentingnya pengetahuan dan peran aktif masyarakat berkenaan dengan kesehatan dan gizi.

Adapun rangkaian kegiatannya sudah mulai dilakukan dari mulai tanggal 25 Januari 2020 kemarin hingga rencananya akan terus berlangsung sampai pertengahan tahun ke depan. Kegiatannya meliputi lomba fotografi, lomba dance, lomba memasak, bazar buah dan sayur-sayuran, talkshow dan seminar kesehatan, hingga konseling gizi dan pemeriksaan kesehatan gratis oleh pemerintah dari kementrian kesehatan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan terpenuhinya gizi yang optimal dan mengurangi angka kasus stunting di Indonesia. 

Itu tadi sedikit ulasan mengenai stunting di Indonesia, untuk informasi-informasi terkini tentang perkembangan isu-isu disabilitas dan kesejahteraan sosial lainnya, kamu bisa menginstal aplikasi Parakerja. Di aplikasi ini, kamu juga sekaligus bisa mempelajari bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan disabilitas lainnya. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!