Parakerja Gandeng SLB Negeri 2 Jakarta Merayakan Hari Perempuan Internasional

Jakarta – Pada Senin (9/3) lalu, SLB Negeri 2 Jakarta merayarakan Hari Perempuan Internasional dengan melaksanakan talkshow bertema “Perempuan dan Disabilitas”, yang dilaksanakan di aula sekolah. Talkshow ini merupakan program yang dilakukan bersama Parakerja, sebuah platform digital edukasi dan pelatihan kerja disabilitas. SLB Negeri 2 Jakarta memiliki kerjasama dengan Parakerja dalam meningkatkan kapasitas pendidikan dan kompetensi penyandang disabilitas di dunia kerja.

Talkshow yang dilakukan merupakan salah satu cara untuk memberikan pemahaman dan edukasi kepada orang tua siswa dan guru mengenai potensi anak disabilitas dan pentingnya dukungan dari orang tua untuk pengembangan anak disabilitas. 

Acara Talkshow ini menghadirkan tiga orang perempuan dengan berbagai latar belakang, yang memiliki kehidupan berkaitan dengan penyandang disabilitas. Mereka adalah Sri Lestari, Kepala SLB Negeri 2 Jakarta yang sudah mendedikasikan dirinya selama 36 tahun untuk anak berkebutuhan khusus; Ilma Rivai, penyandang tunadaksa yang berkuliah di Universitas Al-Azhar; dan Marsiane, Ibu dari seorang penyandang Tunagrahita bernama Adrian Permana, yang menjadi Youtube content creator.

CEO Parakerja, Rezki Achyana, bertindak sebagai moderator dalam talkshow ini. Rezki menegaskan bahwa pengembangan potensi dan skill kerja penyandang disabilitas dapat terwujud secara maksimal dengan adanya dukungan dari keluarga dan ketersediaan aksesibilitas. Aksesibilitas adalah hal yang vital dan wajib tersedia bagi penyandang disabilitas, seperti dalam talkshow ini Parakerja menyediakan Juru Bahasa Isyarat sebagai akses informasi bagi peserta Tuli. 

Pada sesi talkshow bersama Sri Lestari, kepala SLB Negeri 2 Jakarta ini bercerita mengenai awal perjalanan dirinya bersama penyandang disabilitas. Awalnya ia tidak tertarik menjadi guru seperti yang diharapkan oleh kedua orangtuanya. Ia bercita-cita menjadi seorang insinyur. Namun kemudian, dengan pengalaman mengajar di berbagai SLB di Jakarta, perasaan tanggung jawab muncul setelah ia berkunjung ke sebuah SLB D, dan ia mendapatkan sebuah hadiah dari salah seorang muridnya berupa lukisan wajahnya. 

Hal tersebut menjadi sebuah titik balik bagi Sri Lestari, dan kemudian mengantarkan ia pada sebuah perjalanan menarik dan memperjuangkan anak-anak berkebutuhan khusus terutama dalam bidang pengembangan pendidikan. Sepak terjang Sri Lestari selama menjadi pendidik bagi anak-anak berkebutuhan khusus berhasil mengantarkannya menjadi Guru Berprestasi tingkat Nasional tahun 2009, dan menjadi Juara 2 Kepala Sekolah Berprestasi tingkat nasional pada 2017.

Saat ini, Sri Lestari sudah satu tahun memimpin SLB Negeri 2 Jakarta. Beberapa program unggulan yang dilakukan untuk pengembangan kompetensi murid-murid difokuskan pada program vokasional, yakni menjadi barista dan mengembangkan produk kopi bernama Teras Coffee.

Selanjutnya, pada sesi Ilma Rivai, seorang penyandang tunadaksa Cerebral Palsy pengguna kursi roda, pembicaraan difokuskan pada pengalaman Ilma berkuliah di Universitas Al-Azhar jurusan Sastra dan Budaya Jepang. Saat ini Ilma sedang menyusun skripsinya, dan hingga di titik ini, ia bisa mencapainya berkat dukungan dari keluarganya, yang terus memberikan motivasi dan kekuatan kepadanya.

Ketersediaan aksesibilitas di kampusnya juga adalah salah satu faktor penting dalam pencapaiannya dalam pendidikan tinggi. Sebagai pengguna kursi roda, Ilma sangat terbantu dengan adanya ramp atau bidang miring serta lift yang tersedia di kampusnya. Ilma bisa mengakses berbagai ruangan di kampusnya karena adanya aksesibilitas tersebut.

Menurut Ilma, masih banyak perguruan tinggi di Indonesia yang belum aksesibel bagi penyandang disabilitas. Beberapa universitas yang dirasa Ilma cukup aksesibel antara lain Universitas Al-Azhar bagi penyandang tunadaksa, dan Universitas Indonesia bagi penyandang Tunanetra dan Tuli.

Selanjutnya, pada sesi talkshow ketiga, yang menghadirkan Marsiane, seorang Ibu dari Adrian Permana, penyandang tunagrahita yang menjadi Youtube Content Creator, bercerita mengenai pengalamannya mengembangkan potensi Adrian yang tertarik di dunia IT. Adrian adalah alumni dari SLB Negeri 2 Jakarta, dan selain menyandang tunagrahita, ia juga memiliki low vision pada penglihatannya, dan Hard of Hearing pada pendengarannya.

Dengan tiga disabilitas yang dimiliki Adrian, tidak menghalanginya menjadi seorang pembuat konten di channelnya sendiri, The Wizard Royal. Channel ini berisikan games yang dibuat sendiri oleh Adrian. Saat ini channel tersebut sudah memiliki 76.000 subscriber, dan sudah memiliki penghasilan dari Youtube hingga 20 juta per bulannya.

Marsiane menceritakan bahwa awal mulanya Adrian memulai channel Youtubenya dikarenakan ia sendiri ingin memiliki penghasilan dan membantu ekonomi keluarga. Gaji pertama yang diterima Adrian senilai 2.7 juta, dan dengan perkembangan channel yang tinggi, Adrian sudah membelikan motor untuk orang tuanya, serta melengkapi komputer dan berbagai perangkat lain yang dibutuhkannya.

Tiga orang pembicara pada talkshow Perempuan dan Disabilitas ini menginspirasi kita bahwa ada banyak hal yang dapat dilakukan penyandang disabilitas selama diberikan kesempatan dan aksesibilitas yang tepat bagi mereka. 

Dan untuk mengedukasi lebih banyak orang non-disabilitas agar paham mengenai disabilitas, Parakerja memiliki aplikasi yang tersedia di Android, yang dapat membantu orang non-disabilitas untuk paham mengenai disabilitas melalui fitur konsultasi, belajar bahasa isyarat melalui fitur Bisindo, dan mendukung Gerakan Peduli Disabilitas Menuju Masyarakat Inklusi untuk mendorong terciptanya regulasi-regulasi ramah disabilitas dan mendukung Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 mengenai Penyandang Disabilitas.