Pendidikan Tuli dan Perspektif dari Amerika

  Parakerja melakukan live instagram bersama Surya Sahetapy pada Kamis, 7 Mei lalu. Topik pembahasan yang dilakukan adalah mengenai pendidikan Tuli dan perspektif dari Amerika. Surya menceritakan mengenai pengalamannya selama mengenyam pendidikan, dan perspektif yang didapatkannya selama berkuliat di Rochester Institute of Technology, New York, Amerika Serikat.

  Sesi live dimulai pukul 20.00 WIB, dimoderatori dan dijurubahasakan oleh CEO Parakerja, Rezki Achyana. Antusiasme peserta dalam sesi live instagram ini sangat tinggi, terbukti total 1.800 orang mengikuti sesi.

  Surya bercerita bahwa selama mengenyam pendidikan di SLB, ia sangat sulit mendapatkan aksesibilitas yang tepat baginya. Mulai dari guru-guru di SLB yang tidak menggunakan bahasa isyarat hingga tidak setaranya kurikulum SLB dengan sekolah umum. Dulu Surya pernah mengikuti sebuah ujian try out bersaing dengan siswa non-disabilitas dari sekolah umum, dan ia menjadi satu-satunya penyandang disabilitas yang masuk 15 besar. “Saat itu semua teman-teman, guru, orang tua, dan keluarga bangga terhadap pencapaianku,” Ujar Surya. “Namun ketika Ujian Nasional, aku harus mengikuti standar SLB, dan itu down grade banget. Aku kecewa dengan hal tersebut.” Tambahnya lagi.

  Selama bersekolah di SLB, Surya juga tidak pernah bertemu guru Tuli yang bisa menjadi role modelnya. Ia selalu diajar oleh guru Dengar, dan menurutnya agak sulit dipahami bagi teman-teman Tuli yang lain. Pertama kalinya Surya menyadari bahwa Tuli juga bisa menjadi guru, adalah saat mengikuti kegiatan TOT dari sebuah instansi dari New Zealand, yang menghadirkan Tuli sebagai tutornya. “Saat itu usiaku 21 tahun, dan disitulah aku semakin bersemangat untuk menggali potensiku.” ujar Surya.

  Saat ini Surya berkuliah di Amerika, dan ia banyak bertemu dengan guru-guru, dosen, bahkan professor Tuli. Ia juga pernah bertemu dengan kepala sekolah Tuli di Indonesia, dan ia sangat ingin Indonesia juga mengembangkan SDM Tuli seperti yang dilakukan Amerika. “Peningkatan SDM Tuli di sektor pendidikan adalah hal yang penting untuk mewujudkan generasi Tuli yang berkualitas.” jelasnya.

  Mengakhiri sesi live instagram pukul 21.00 WIB, ketika ditanya mengenai harapannya terhadap pendidikan Tuli di Indonesia, Surya menyatakan bahwa ia ingin lebih banyak Tuli yang terjun langsung ke dunia pendidikan, agar generasi Tuli yang bersekolah di SLB mendapatkan akses yang tepat, serta tersedianya Juru Bahasa Isyarat saat berkuliah di universitas.